Suara-suara Sirna

1/

Suara-suara sirna. Suara-suara bahasa. Bahasa ibu dapat kabur. Sebab penghuni kurang tafakur. Bahasa ibu dapat lebur. Sebab teruapkannya syukur.

Suara-suara sirna. Suara-suara bahasa. Bahasa tetangga terkuasa. Plis, jangan lupa bahasa ibu, yang masih rela mengandung anak durhaka, meski mereka lupa.

2/

Suara-suara sirna. Suara angin mengantar riak ke dalam telinga. Suara riak mengantar cinta ke dalam dada, lewat kerang merah muda yang diberikan Baruna. “Kalau rindu laut, tempelkan saja kerang itu di telinga,” katamu.

Terilhami oleh film Kulari Ke Pantai

Advertisements
Standard

Membaca Berita: Seorang Gubernur

1/

Aku membayangkan tubuh kekasihku dipeluk ayat-ayatnya sendiri. Mulutnya dilumat dalil-dalil Cinta. Jika dengannya tidak kacau, kenapa risau?

2/

Aku sedih jika kekasihku dipeluk olehnya, mengucap persatuan yang bersumber dari bibirnya yang empuk, namun penolakan perbedaan masih merasuk.

Jogja, 2018

Standard

Punggungku Bak Kanvas

Dua logam 500 rupiah diambil dari sakunya

memintaku memilih salah satunya,

“Warna emas atau perak, nak?” tanyanya.

 

Bak kuas halus,

warna emas jelas ujungnya lebih mulus.

Akan seimbang karena kanvasnya kasar,

yaitu punggungku yang megar.

 

Dioleskannya cat minyak gandapura.

Warnanya satu, yaitu cinta.

Dia mulai melukis,

epidermisku terkikis,

pori-pori terbuka lebar,

angin dalam tubuhku membuncah keluar.

 

Bukan lukisan kontemporer,

konsep spasial lebih tepatnya.

Garis-garis merah berjejer

seperti barisan tulang yang tertata.

 

Dioleskannya lagi cat minyak gandapura

merata sampai seluruh rongga.

Ditepuk kanvas megar itu,

katanya, “Bismillahirrahmanirrahim, sembuh.”

Standard

Flu

Aku dan kamu sedang flu

namun ngeyel minum es

terpaksa, karena cuaca panas.

 

Hidungmu besar

sedang tersumbat.

Produksi ingusnya mungkin banyak

menyesuaikan lubangnya yang biak.

 

Hidungku tak sebesar hidungmu

sedang tersumbat juga.

Produksi ingusnya mungkin lebih sedikit

menyesuaikan lubangnya yang sempit.

 

Jika ada suatu hal yang aku inginkan,

aku ingin hidung kita bersentuhan

lalu berciuman, hingga lupa

bahwa kita sedang flu tak kunjung reda.

Standard

Kekasihku Tak Enak Badan

Jika nanti kekasihku tak enak badan,

aku ingin kata-kata hilang,

namun aku selalu ada di sampingnya

walaupun untuk sekadar mengusap

keningnya yang lapang.

 

Jika nanti kekasihku tak enak badan,

aku ingin mataku selalu terpejam

dan selalu berdoa pada Tuhan

supaya sakitnya tak lagi menghujam.

 

Jika nanti kekasihku tak enak badan,

aku ingin memberikan obat

yang dokterpun tak tahu obatnya

hanya aku paling tahu yang tepat.

 

Jika nanti kekasihku tak enak badan,

aku ingin memegang tangannya yang hangat

dan kali ini aku harus berkata,

“Kamu kuat. Bahkan melebihi cintaku yang tak tersirat.”

 

Jika nanti kekasihku tak enak badan,

akan kuberikan suapan,

tentu bukan bubur kacang ijo kesukaanku,

jelas adonan kasih dan sayang setiap waktu.

 

Jika nanti kekasihku tak enak badan,

aku tak mau.

Inginku, kamu sehat selalu.

Standard