Wedang Bajigur

Angin merangsek tubuhku yang gigil dihajar cuaca, memupuh sengit kulit. Selimut merungkup mesra tubuhku.

Ibu langsung membuat kesal santan hingga panas mendidih, raut wajahnya tetap manis, karena ditambah gula merah dan gula pasir, tak lupa di leher santan diberikan pita daun pandan. Dengan segenap hati sesiung jahe ditetak Ibu hingga memar, babak belur. Ditambahkan vanili supaya wajahnya terlihat lebih cerah. Bubuk kopi ditabur, karena ingin menikmati malam sambil bertadabur. Oh wedang bajigur.

Segelas wedang bajigur memupuh sepi sepanjang hari. Menghangat tubuh sepanjang waktu, namun tak lebih dari kasih sayang Ibu.

Terinspirasi dari puisi Hasta I. – Wedang Uwuh

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s