#Belajar-Mencintai-Ibu

1.

Di antara baris-baris ikan teri,

Aku temukan bibirmu simpul berseri.

Di antara basahnya biji-biji cabai dalam sambal terasi,

Aku temukan butir-butir mata air mata.

Di antara jengkol-jengkol yang kuyup berminyak,

Aku temukan wajahmu dihajar keringat.

Di atas piring kaca itu,

Aku menemukanmu, Ibu.

2.

Waktu aku kecil,

Nasiku adalah nasi Ibuku.

Tidak ada nasi orang lain dalam perutku,

Kecuali mereka berbohong, bahwa

“Itu nasi buatan ibumu. Makanlah”

Tentu saja, aku mudah percaya saat itu.

Nasiku adalah nasi ibuku,

Yang berasnya dicuci dengan saripati cinta

Dan dimasak dalam ruang kasih sayang.

3.

Seringkali aku melihat

wanita paruh baya itu mengendap-endap,

bersembunyi dalam kopi yang dibuatnya,

melakukan pertahanan atas kantuk yang ‘kan melawan.

Atau malah kopi telah mencuri matanya.

Kalau saja aku tahu kapan dia mengendap-endap,

aku ingin menyamar jadi biji-biji kopi

sebelum digerus dan diseduhnya.

Dia menunggu anaknya tertidur,

memastikan selimut di ranjang telah menjelma sekujur tubuh.

4.

Terlihat grasah-grusuh wanita paruh baya sebelum subuh di dapur yang lusuh. Lebih dari sepertiga malam, entah 2/3 malam, atau 3/3 malam, kulihat matanya masih kelam temaram. Tiba-tiba terdengar pertarungan antara sodet dan wajan yang membawa aroma kehidupan. Asap-asapnyamenyembul kemana-mana, tercium hingga membangunkan ayam yang ‘kan bersuara.

Dia bangun lebih awal, mata kailnya siap memancing matahari keluar dari persembunyiannya. Mengganti pakaian langit yang gelap jadi terang kebiru-biruan. Menghidangkan 4 sehat 5 seadanya, di meja makan yang tak ada mejanya. Dia bangun lebih awal, bahkan sebelum matanya yang kasual.

5.

Kalau memang ku hanya tidur dalam dekapmu setiap malam.

Tapi mengapa pelukmu merasuk setiap waktu, Ibu.

 


Bandung, 29 September 2018

Advertisements
Standard

SAJAK-SAJAK UNTUK, SIAPA?

1

Tak ada lagi yang harus kutemui

pada jam istirahat, tak ada.

Namun, tak ada pula kata istirahat

dalam mencintaimu, tak ada.

2015

2

Sejauh ini aku tetap merindukanmu.

Sedekat kemarin pun aku tetap begitu.

Berarti, bukan lagi jarak yang menciptakan rindu,

tapi rasa, perasaan akan dirimu.

3

Tiba-tiba kau bertanya,”Apa kabar?”.

Seketika itu pula kabarku menjadi sangat baik

dari biasanya.

2017

4

Aslinya, malamku panjang.

Menjadi pendek karena harus berhenti

sejenak memikirkanmu.

Sebagai manusia, aku perlu tidur juga.

Yang kemudian berdoa,

berharap kehadiranmu di mimpiku.

2018

5

Kuakui, ya seperti biasa.

Di hadapanmu, selalu tersipu malu.

Di hadapan Tuhan, tak lekang mengharapmu.

Kuakui, ya seperti biasa.

Di hadapanmu, selalu lidahku kaku.

Di hadapan Tuhan, tak lekang mendoamu

Terinspirasi dari Puisi Kharisma P.

6

Aku ingin,

suatu saat kita berdua berada

pada salah satu puncak mencintai,

ketika kita tidak perlu mengucapkan cinta,

namun saling mengerti.

 

Repotnya aku jika cinta harus diucapkan,

dan mungkin kau pun akan bosan,

jika setiap saat yang kuucapkan

hanya cinta akan dikau.

7

Ya. Tentu.

Kalau kelak kau meniadakanku.

Paling tidak, waktu sudah merekam semuanya.

Tapi, kalau kelak kau merindukanku.

‘Kan kujawab, “Tidak tahu ya? Aku sudah dari dulu.”

2018

8

Engkau,

Dermaga tempatku berlabuh

Cinta datang bukan karena jatuh,

Tapi menepi dengan sungguh

9

Tidak ada hari minggu,

tidaklah pula ada tanggal merah

di kalender masehi maupun hijriah.

Tidak ada aku yang berlibur

mencintaimu.

 

Pada suatu hari,

engkau lahir hari senin

dan aku selasa.

Tidak ada rabu, kamis, jumat, dan sabtu.

Tapi tetap, tidak ada hari minggu

dalam mencintaimu.

10

Jika kelak kau meniadakanku.

Paling tidak, waktu sudah merekam semuanya.

Tanpa perlu foto.

Tanpa perlu jejak sayatan pisau

bertuliskan nama kita berdua di pohon.

11

Aku yakin engkau perempuan baik,

yang akan membaca pesanku

lalu membalas dengan segera.

 

Jika pesanku tenggelam,

semoga Tuhan menjadikan engkau

perempuan yang sabar menscroll pesan.

Amin.

12

Kuperhatikan rambutmu tampak berbeda

sedikit lebih panjang dan mengembang,

Senyummu masih sama,

tulus dan tak pura-pura.

13

Apapun yang terjadi hari ini.

Kami bertatap lebih dekat.

Kami senyum.

Kami melambai.

Dan, mungkin, kami sedang mengulang waktu.

14

Pada akhirnya semua perempuan harus paham,

laki-laki adalah manusia yang menjadi berbeda

sesuai cara pandang perempuan.

15

Tentu, aku masih merasakan dinginnya malam itu di atas motormu.

Namun, seketika pula kehangatan dalam tubuhku meningkat,

ketika yang bersamaku adalah dirimu.

16

Aku tidak lupa membawa permen untukmu,

manisnya cinta menempel di gigimu

yang katanya selalu sakit setelah mengunyahnya,

walaupun sebenarnya kau suka

 

Aku lupa sudah bungkus ke berapa ini.

Kalau permen yang kuberi

sudah habis kau kunyah.

Mengapa manisnya masih tertinggal di wajahmu

17

Seberapa besarpun penolakan yang bersumber darimu terhadapku.

Rasanya sulit jika tidak mengkhawatirkanmu ketika panas sedang terik-teriknya.

Lalu bertanya-tanya tanpa berani menanya.

“Apakah kau sedang dalam adem yang menjagamu atau semburat matahari yang menyilaukanmu?”

 

Seberapa besarpun penolakan yang bersumber darimu terhadapku.

Rasanya sulit jika tidak mengkhawatirkanmu ketika hujan sedang deras-derasnya.

Lalu bertanya-tanya tanpa berani menanya.

“Apakah kau sedang dalam teduh yang nyaman atau riuh cipratan hujan yang menghujam?”

18

Bagaimana jika selendang yang kaugunakan saat menari adalah aku,

yang dijahit benang-benang rindu,

dan lentur bagai nestapa, yang datang tanpa aba.

 

Tapi pernahkah kau membayangkan jika selendang itu aku,

merengkuh tubuhmu yang cring-cring karena suara gelang-gelang India.

Merangkul pundakmu yang basah karena gerak-gerik resah.

Menyingkap-menyahap hatimu, yang ternyata

di dalamnya bukan aku.

19

Aku ingin menjadi jaket-jaketmu

yang kautanggalkan dan tinggalkan

di kepala motor yang kaupakai berkendara

bersama dengan kekasihmu menerabas hujan.

 

Aku ingin menjadi anak kecil dalam dirimu

yang suka sekali tertawa

walaupun hanya mendengar kata-kata nirmakna.

 

Aku ingin menjadi aku untuk mencintaimu

20

Melihat sudut kota dari sudut bibirmu,

yang pusatnya jelas di bening matamu.

Aku tertimbun reruntuhan masa lalu.

Ketika dirimu tak hanya merayu,

tapi sumber penawar pilu.

Standard

Sebuah Perjalanan: Mencintai Ianthella basta

Ianthella basta, mulai detik ini, kuberi nama panggilan kau, ‘Ella’. Manis bukan?, dia senang sekali bermain di laut lepas, mampu menyelam hingga ke dasar laut tanpa alat bantu apapun. Dalam dirinya terdapat racun, guna kehidupan melawan tirani-tirani kekuasaan predator-predator dan hama-hama yang cukup merugikan keberlangsungan hidupnya dan manusia di muka bumi. Sehingga, atas nama cinta, aku rela ditikam racun-racunnya.

“Jalur 2 Commuter Line tujuan akhir Stasiun Jakarta Kota berangkat dari Stasiun Lenteng Agung,” Suara perempuan yang berasal dari pengeras suara selalu menemaniku menunggu kereta tujuan ke Stasiun Jakarta Kota, setiap paginya.

“Selamat pagi, Djakardah!”

Aku menunggu di Stasiun Tanjung Barat. Ya, stasiun setelah Lenteng Agung. Bersama saku-saku dan dompet-dompet hidup yang memiliki tujuan yang sama, menjemput sesuatu yang dinamakan rezeki. Tak sedikit pula, bersama gelas-gelas kosong dalam kepala anak-anak menjelang dewasa yang mencari mata air untuk diisikan ke gelasnya, walaupun sebenarnya ada mata air dalam diri mereka. Sedangkan aku? adalah angin yang mengibas rambutmu, kekasih.

Commuter Line tujuan akhir Stasiun Jakarta Kota akan segera tiba.”

“Priiitt…. Priittt… Priittt… Mundur mas! Mundur mba! dibelakang garis kuning,” seru petugas keamanan dengan seragam gelap dan helm terangnya, tak lupa pentungan dengan posisi yang siap dihunuskan jika kejahatan menggangu wilayahnya.

Pintu Commuter Line dibuka, di antara kaki-kaki buruh yang lapar, hanya ada sedikit celah kosong untuk sebuah ketulusan. Aku menjelma buruh yang kakinya begitu lapar, paling tidak untuk merasa serupa, bahwa kita punya hak yang sama untuk gerbong kereta yang sedang kita injak ini. Berdesak-desakan. Hingga bisa jadi, di antara kami sudah saling bertukar bau badan. Tapi tetap, rezeki sudah memilih tuannya masing-masing, tinggal dijemput.

“Sesaat lagi Commuter Line akan tiba di tujuan akhir Stasiun Jakarta Kota.”

Tiba di Stasiun Jakarta Kota. Namun, sayangnya, ini bukan stasiun akhir, hanya transit saja. Karena, aku masih harus menunggu Commuter Line ke arah Stasiun Ancol, menuju Jalan Pasir Putih, tempat di mana dia selalu menunggu kedatanganku. Pokoknya kami ini romantis luar dan dalam.

Selama hampir satu bulan di awal oktober, aku memang tinggal di daerah yang kurang lebih 20 menit menuju Stasiun Tanjung Barat. Tinggal di rumah saudaraku. Setiap pagi pesan ojek daring menuju stasiun. Setiap pagi mesti berdesak-desakan untuk sampai tujuan. Setiap pagi, cintaku selalu tumbuh dan rinduku selalu baru, kekasih.

Setelah memperhitungkan banyak hal, aku memutuskan tinggal bersama kawanku, Jonathan. Kami ngekost berdua dalam satu kamar di daerah Sunter, yang disinyalir sebagai daerah dengan daya panas yang lebih tinggi dibanding daerah Jakarta bagian yang lain. Apa yang dilakukan Jonathan di sana? sama halnya denganku, ingin menjumpai kekasih kami masing-masing di Jalan Pasir Putih. Nama kekasih Jonathan adalah Entrococcus. Kami seringkali double date di ruangan yang sama. Memadu kasih dengan kekasih masing-masing.

Terbentang luas lazuardi

pada diri sendiri

susah di hati

bergegas pergi

Lagu Lazuardi dari Cholil Mahmud (vokalis Efek Rumah Kaca) yang seringkali kuputar menjadi salahsatu penyemangat sebelum berangkat menemuinya, bahwa dalam diri kita terbentang luas asa yang mampu menghalau susah dan segala keresahan hati. Playlist lain yang seringkali kuputar juga adalah lagu Hidup Hanya Sekali dari White Shoes & The Couple Company. Pernah, beberapa kali diplay lagu dari Iksan Skuter yang berjudul Ayah, yang membuat Jonathan semakin merindukan ayahnya, yang waktu itu sedang dalam kondisi kurang sehat.

Kali ini tiada yang cari cinta

sepi di luar sepi mendesak

kuberkaca bukan untuk ke pesta

muka penuh luka

siapa yang punya

White Shoes & The Couple Company – Hidup Hanya Sekali

Ada manusia yang paling ingin aku peluk

tapi aku malu

tidak juga malu sebenarnya

hanya angkuh sebagai lelaki

orang yang sepertinya tak peduli

dengan apa yang kulakukan

diam-diam bertanya kabarku

diam-diam menanyakan

siapa wanitaku sekarang

diam-diam menanyakan segala hal tentangku

pada ibu

Iksan Skuter- Ayah

Malam-malam di Sunter kami habiskan dengan makan nasi goreng-nasi sate-nasi goreng-nasi sate-nasi goreng-nasi sate, selalu begitu hingga selesai waktunya haha, tidak ada pilihan lain. Kami pernah mencoba makanan lain, Soto Betawi, tak disangka harganya edyan paraaah, uangnya bisa kami pakai untuk makan selama 3 malam, tapi ludes begitu saja dalam satu hari.

Selama hampir 3 bulan, aku dan Ella memadu kasih, banyak yang telah kami lewati, segala macam ujian yang terkadang gagal mendapatkan hasil yang sesuai, namun kami sama-sama tidak menyerah. Hingga pada akhir tahun, Desember 2017, kami memutuskan berpisah. Tapi serpihan-serpihan kenangan masih terus kurajut hingga menjadi lembar-lembar catatan yang akan menjadi saksi keberadaanku di muka bumi.

Bagaimana aku harus mengenangmu, Ella. Masih teringat jelas, mencintaimu adalah kesungguhan paling pukau di antara kesungguhan-kesungguhanku mencintai makhluk hidup yang lain, sekalipun yang tercantik di lautan Indo-Pasifik. Kini, kisah kami telah selesai dengan baik-baik. Semua akan berjalan masing-masing, bersama kenangan indah yang pernah kami racik, menjadi ekstrak-ekstrak dari pelarut-pelarut yang telah teruapkan. Terima kasih atas perjalanan yang kadang merepotkan, namun apalah hidup jika tidak disyukuri atas segala apapun yang terjadi.

Mungkin kita tak akan pernah sampai pada apa yang kita inginkan, tapi Tuhan selalu menempatkan kita pada keadaan yang selalu tepat untuk disyukuri. Hidup bukan untuk kufur, tapi perihal syukur.

Standard

Wedang Bajigur

Angin merangsek tubuhku yang gigil dihajar cuaca, memupuh sengit kulit. Selimut merungkup mesra tubuhku.

Ibu langsung membuat kesal santan hingga panas mendidih, raut wajahnya tetap manis, karena ditambah gula merah dan gula pasir, tak lupa di leher santan diberikan pita daun pandan. Dengan segenap hati sesiung jahe ditetak Ibu hingga memar, babak belur. Ditambahkan vanili supaya wajahnya terlihat lebih cerah. Bubuk kopi ditabur, karena ingin menikmati malam sambil bertadabur. Oh wedang bajigur.

Segelas wedang bajigur memupuh sepi sepanjang hari. Menghangat tubuh sepanjang waktu, namun tak lebih dari kasih sayang Ibu.

Terinspirasi dari puisi Hasta I. – Wedang Uwuh

Standard

Duh bahasa

1/                                                      Aku mulai pilek lagi setelah dua malam kedinginan pelik, tapi tidak sakit kepala karena habis minum air kelapa, tidak memilih yang muda, karena ada madu.

2/                                                    Telah kuberikan cinta sebesar karung, kau masih merasa kurang. Kusimpan rindu sebesar kotak, kau menganggap sebesar kantung katok. Kubilang, “kau bagaikan paru-paru“, kaubilang, “kau hanya pura-pura.”

Jogja, 2018

Standard

Janganlah cintai aku dengan Cinta yang marah

Janganlah cintai aku dengan Cinta yang marah. Aku tak ingin pipimu basah ketika istirah, hanya karena kopimu tumpah tersenggol amarah.

Janganlah cintai aku dengan Cinta yang marah. Ku tak ingin Hamka gundah, sebab katanya, “Cinta itu melemahkan hati, menghidupkan pengharapan.”

Tapi cintailah aku dengan cinta yang kudus. Seperti pedang yang terhunus, bukan untuk membelah dadamu lalu kumasukan aku, tapi membelah egomu yang menolak keberadaanku.

Jogja, 2018

Standard

Suara-suara Sirna

1/

Suara-suara sirna. Suara-suara bahasa. Bahasa ibu dapat kabur. Sebab penghuni kurang tafakur. Bahasa ibu dapat lebur. Sebab teruapkannya syukur.

Suara-suara sirna. Suara-suara bahasa. Bahasa tetangga terkuasa. Plis, jangan lupa bahasa ibu, yang masih rela mengandung anak durhaka, meski mereka lupa.

2/

Suara-suara sirna. Suara angin mengantar riak ke dalam telinga. Suara riak mengantar cinta ke dalam dada, lewat kerang merah muda yang diberikan Baruna. “Kalau rindu laut, tempelkan saja kerang itu di telinga,” katamu.

Terilhami oleh film Kulari Ke Pantai

Standard